Kamis, 18 Desember 2014

MUSIK UNTUK AUD

SENI MUSIK UNTUK ANAK USIA DINI

Pengertian seni musik

Musik adalah ungkapan ekspresi estetik seseorang yang dituangkan dalam bentuk suara.
Sebagai salah satu bagian dari sebuah karya seni, musik juga merupakan karya seni yang universal. Siapapun, kaya miskin, pejabat buruh, tua muda, laki-laki perempuan dan suku bangsa apapun menyukai seni musik. Dalam sisi kehidupannya, manusia tidak terlepas dari seni musik. Event resmi atau hiburan, selalu ada musik. Bisa kita perhatikan di layar kaca televisi, hampir semua mata acara selalu ada muatan seni musiknya.

Sepanjang sejarahnya, musik diciptakan untuk segala peristiwa besar. Musik tertentu telah diciptakan untuk peristiwa penting manusia, seperti gending gebo giro pada perkawinan masyarakat jawa, musik gondang dan uning-uningan pada perkawinan batak. Kematian, seperti requiem pada pemeluk nasrani, musik angklung menyambut panen tiba di parahiyangan, dll. Musik juga dapat menyatukan solidarisme kebangsaan, seperti lagu indonesia raya, atau solidaritas politik, seperti lagu mars dan hymne partai. Musikpun berperan dalam bidang ekonomi, seperti jingle-jingle produk-produk yang dipasarkan.

Menjadi sangat dimengerti apabila para ulama tempo dulu menciptakan banyak lagu /tembang sebagai sarana dakwahnya. Lagu-lagu iru sampai sekarang masih sering kita dengarkan lewat menara-menara masjid dengan lantunan puji-pujiannya. Konon untuk menunjukkan kecintaannya pada rosulullah, para shahabat melantunkan sholawat badar untukmenyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW dari perang badar yang dimenangkan kaum muslimin dengan gilang gemilang. Bukankah sholawat badar bukan satu bentuk dari nyanyian. Demikian pula ketika nabi Muhammad SAW mengagumi lantunan suara Abu Musa AlAsy'ari membaca Al-Qur'an,bukankah lantunan suara itu bentuk dari sebuah lagu. Demikianlah menurut fitrohnya manusia memang menyukai keindahan, dalam soal suara, manusia pasti akan lebih menyukai nada-nada yang indah, mengandung harmoni, sehingga enak didengar daripada mendengar suara-suara yang cenderung sumbang, tak beraturan sehingga terasa tak nyaman di telinga. Bentuk harmoni yang indah itu kemudian diusahakan agar dapat diulang kembali, diperdengarkan lagi, ditirukan, bahkan disebarluaskan. ltulah yang kita kenal sebagai lagu atau nyanyian.

Fungsi dan makna nyanyian bagi pendidikan anak-anak.

Melihat kegemaran anak-anak menyanyi tentu dengan segenap tingkah lakunya, menerbitkan pertanyaan : apa sebenarnya fungsi dan makna lagu-lagu semacam itu bagi mereka? sebagai seorang pendidik pertanyaan lumrah ini memang wajib kita cari jawabannya. Sebagai renungan dibawah ini secara garis besar akan kita sebutkan apa makna dan fungsi kegiatan bernyanyi bagi anak-anak, yaitu :

1. Sebagai pendidikan emosi
2. Pendidikan motorik
3. Pengembangan daya imajinasi
4. Peneguhan eksistensi diri
5. Pengembangan kemampuan berbahasa
6. Pengembangan daya intelektual
7. Pengembangan kekayaan rohanidan pendidikan nilai-nilai moral.


Pengaruh musik pada perkembangan anak usia dini.

Menyanyi adalah bagian yang tak terpisahkan dari dunia anak-anak. Menyenandungkan lagu, apalagi yang berirama riang, sungguh merupakan kegiatan yang disukainya. Hal ini tidaklah mengherankan, karena lagu pada dasarnya adalah bentuk dari bahasa nada, yaitu bentuk harmoni dari tinggi rendahnya suara. Pada insan-insan belia yang perbendaharaan bahasa masih cukup terbatas ini, bahasa nada justru lebih mudah mereka kunyah. Bahasa kata-kata membuat mereka dituntut mengernyitkan dahi dan bersusah payah untuk memahami maknanya. Sedang bahasa nada justru akan membawa mereka pada suasana: riang, syahdu, sedih,semangat,dsb, tanpa harus mereka mengerti apa isi kandungannya. Kita dapat saksifan bayi yang baru berusia beberapa bulan tergelak-gelak mendengar ayah bundanya menyanyikan lagu gembira. Saat lain iapun tertidur pulas setelah bundanya melantunkan lagu syahdu walaupun tanpa syair, semisal ningnong ning gung .. Begitulah, jauh sebelum anak-anak mengenal bahasa kata,ia telah mengenal bahasa nada.

Ketika anak-anak beranjak lebih besar, mereka akan semakin akrab dengan lagu atau nyanyian. Asal melodinya tidak terlalu rumit, mereka akan dengan senang hati menyanyikannya. Mereka minta diajari menyanyi, menghafalkan syairnya, belajar melafalkan kata-kata yang terdapat pada syair lagu itu, sibuk bergaya ketika menyanyi, dsb.Semua itu adalah bagian dari dunia keceriaan masa kanak-kanak yang indah.

Dalam proses perkembangan otak dan pikiran seorang bayi dalam rahim, ada sistem yang terbentuk pada tahap yang sangat dini, yakni sistem pendengaran. Telinga adalah organ pertamajanin yang terhubungkan dengan perkembangan sistem syaraf otak, dan janin mulai mampu mendengar pada usia trisemester kedua kehadirannya dalam rahim. Menurut Dr. Alfred Tomatis, Perancis, gangguan pada alat pendengaran baik ketika masih berada
dalam kandungan maupun pada tahun-tahun pertama kehidupan seorang anak manusia dapat menyebabkan gangguan pada kemampuan mendengarkan, kemampuan belajar, dan gangguan emosi pada tahun-tahun berikutnya. Mulai sekitar usia lima bulan bayi dalam kandungan tersebut mulai belajar 'bahasa' melalui pembentukan kemampuan sensori-motorik primernya, yaitu ketika bayi mulai memberikan reaksi-reaksi otot terhadap bunyi dari kata-kata yang diucapkan sang ibu. Ini menjadi landasan bagi perkembangan kemampuan berbahasa sang bayi ketika dia lahir kelak.

Dari sejumlah hasil penelitian diperoleh informasi yang menggugah perhatian kita, bahwa seni khususnya musik sangat berkaitan erat dengan kemampuan akademik seseorang. sembilan puluh persen anak-anak yang belajar pada sekolah yang menerapkan program musik secara intensif, menunjukkan kemampuan berbahasa di atas tala-rata kemampuan anak berbahasa di sekolah tersebut.
Zoltan Kodaly (1882-1967) adalah seorang komposer, etnomusikotog, pendidik berkebangsaan Hongaria. Ketertarikannya pada pendldikan khususnya pengajaran musik, telah mendorongnya menclptakan sebuah metode betajar musik yang dikenat dengan metode Kodaly. Pandangannya tentang musik dan anak adatah bahwa setiap anak mempunyai kecakapan berbahasa dan juga cakap berbahasa musikat; bernyanyi adalah dasar terbaik bagi anak yang belajar musik; pendidikan musik akan sangat efektif bila diajarkan pada anali-anak usia dini; musik seharusnya menjadi inti suatu kurikulum sekotah format. menurutnya anak berkembang secara utuh, yakni berkembang secara fisik, emosional, estetik, dan intetektuat, termasuk juga anak berkembang secara musika[ datam pencapaian peningkatan kemampuan-kemampuan yang kompleks.

Teori Multiple Intelligence yang dikembangkan Gardner pada tahun 1980-an, memperkuat pendapat bahwa seni khususnya musik mempunyai fungsi dan berpengaruh dalam mengembangkan intelegensi anak. Teori ini memberikan wacana yang lebih luas dalam memandang seorang anak secara holistik. Teori Gardner ini sangat berseberangan dengan teori'teori sebelumnya yang mengatakan bahwa manusia hanya memiliki verbal- linguistic intelligence dan logical-mathematical intelligence. Menurutnya masih ada enam intelegensia lainnya yang dimiliki oleh setiap manusia.

Teori Multiple Intelligences menyebutkan bahwa setiap manusia memiliki multi intelegensi yang meliputi:

1. Linguistic Intellegence, yakni suatu kemampuan untuk memahami dan menggunakan bahasa baik bahasa lisan dan tulisan. Memiliki kepekaan memaknai kata-kata dan fungsi-fungsi bahasa. Mereka berpotensi menjadi penulis, penyair, orator, pengacara.

2. Logical/Mathematical Intelligence, yakni suatu kemampuan menggunakan berpikir induktif dan deduktif, angka-angka, dan pola-pola abstrak. Seringkali menunjuk pada kemampuan berpikir scientific, membandingkan, membedakan, dan memadukan informasi. Berpotensi menjadi ilmuwan dan ahli matematika.

3. Musical Intelligence, yakni kemampuan untuk memahami komunikasi dengan menggunakan pola-pola nada, bunyi, ritmik dan beat. Berpotensi sebagai musisi dan komposer.

4. Bodily-Kinesthetic Intelligence, kemampuan menggunakan dan memahami gerakan yang bersifat fisik. Unggul terhadap gerakan tubuh atau kemampuan memanipulasi objek dengan baik. Berpotensi menjadi atlet, instrumentalis, penari, dan SAR.

5. Visual Spatial Intelligence, kemampuan menerima dan mengkreasikan kembali visual secara akurat di kepalanya (senirupawan, navigator, perancang, pemain catur).

6. Interpersonal Intelligence, kemampuan membuat perbedaan-perbedaan diantara individu-individu berkenaan dengan suasana hati, motivasi- motivasi, dan temperamennya, dan mengkomunikasikannya. Berpotensi menjadi (politisi, pemimpin agama, konsultan, pelatih, pengarah).

7. Intrapersonal Intelligence, kemampuan melakukan refleksi diri dan memiliki kesadaran akan keadaan dirinya. Kemampuan mendefinisikan perasaan dirinya sebagai cara untuk memahami dan mengarahkan tingkah lakunya (psikolog, konsultan).

8. Naturalistic Intelligence, kemampuan mengenali pola-pola dalam alam dan mengelompokannya menurut hal-hal kecil (ahli botani, geologi, dan penjaga alam)

Bahkan jauh sebelum Gardner maupun Kodaly lahir dan berkarya, seorang filsuf Yunani terkenal telah menyatakan pandangannya tentang pentingnya musik dalam kehidupan manusia. Dia adalah Plato (300 SM). Plato mengatakan bahwa musik adalah alat pendidikan yang memiliki kekuatan yang besar (the most powerfull educational aid), juga bermain. Anak-anak memiliki kecenderungan yang alami untuk bernyanyi dan bermain, dan bentuk kedua aktivitas ini memegang peranan penting dalam perkembangan mereka.

Bagi bayi dan anak-anak kecil, musik dan permainan merupakan dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan (Bridges 1994; 36). Anak-anak ada masa usia balita senang dengan permainan yang selalu dikaitkan dengan musik (Maxim 1989;304). Menurut Lay-Dopyera & Dopyera (t997; 396), beberapa anak menghubungkan musik melalui gerakan-gerakan.

Lebih lanjut dikatakan oleh Yazejian dan peisner-Feinberg (2002) peneliti dari FPG Child Development Institute, USA, bahwa pengalaman musik dan gerak kerapkali dipandang sebagai aktivitas dan materi yang berkaitan dengan perkembangan kemampuan berbahasa dan kognitif anak, yakni kemampuan-kemampuan yang diasosiasikan dengan definisi konvensional dari kesiapan bersekolah. Selanjutnya dikatakan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara pendidikan musik dan kesiapan anak masuk sekolah.

Proses belajar musik pada anak usia dini

Berikut disajikan hasil penelitian yang dilakukan oleh Moog dan Gordon yang meneliti bagaimana proses anak mengenali musik. Menurutnya (Moog, H, 1976):

1. Ketika seorang ibu memperdengarkan musik kepada bayinya selama bulan-bulan terakhir kehamilan, jabang bayi akan menjadi aktif bergerak.

2. Pada saat senyumnya yang pertama, musik-musik lembut dengan pitch nada tinggi akan membuatnya tenang.

3. Hal ini akan berubah ketika bayi berumur empat hingga enam bulan, bayi akan bereaksi mencari sumber musik dan mendengarkannya dengan cermat. Kerapkali hal ini dilakukan dengan ekspresi penuh keheranan dan wajah gembira.

4. Nada-nada tinggi dari suara penyanyi atau instrumen musik seperti rekorder membawa efek menenangkan bayi.

5. Antara usia empat dan enam bulan, anak mulai memberikan respons pada musik yang diperdengarkan padanya dengan jelas, berupa gerakan- gerakan yang diulang-ulang, biasanya dengan seluruh tubuhnya seperti melambung dan bergoyang-goyang. Gerakan-gerakan tersebut tidak "in tempo" dengan musiknya.

6. Usia antara lima belas bulan hingga satu setengah tahun, beberapa anak mulai menyesuaikan gerakan-gerakan mereka dengan irama musik, namun dalam durasi yang pendek.

7. Segera setelah mereka mulai dapat melakukan gerakan-gerakan dengan tetap, anak mulai membuat suara-suara (seperti kokok ayam atau mengikik) merespons musik. Musik 'coleteh' ini nadanya tidak seperti nada musik pada umumnya, nadanya dinyanyikan seperti berbicara. Ritmiknya bergerak tidak teratur dan temponya tidak konsisten. 'Musik' ini oleh para ilmuwan disebut dengan istilah parentese. Parentese adalah bunyi mirip suara orang berbicara yang ditampilkan seperti musik, dengan bunyi-bunyi berfrekuensi tinggi, variasi-variasi trinada, bersajak, berirama, sangat ekspresif, dan bunyi-bunyi vokal yang meluncur luwes, dan kesemuanya itu disertai dengan ekspresi wajah yang dramatis (Campbell, 86). Musik 'coleteh' dengan berbagai pitch yang dihasilkan anak ini dimaksudkan untuk merespons nyanyian yang ditujukan padanya. Vokalisasi ini tentunya terdengar tidak diatonis atau tidak berirama. Interval-interval nadanya cenderung descending, bergerak dalam interval yang tidak biasa, dan wilayah nadanya sekitar satu oktaf berkisar di nada f .

8. Pada usia satu setengah tahun, anak mulai suka menari dengan anak- anak yang lain. Menari yang dimaksudkan di sini adalah gerakan-gerakan bagian atau seluruh tubuh yang dilakukan anak secara spontan karena rangsang irama musik yang didengarnya.

9. Sekitar usia dua tahun, anak mulai memperlihatkan kemampuannya mendengarkan musik dengan durasi yang lebih lama dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Mereka juga merespons musik secara spontan dengan gerakan-gerakan menari.

10. Usia antara satu hingga dua tahun, anak mulai mengimitasi (menirukan) lagu-lagu anak-anak yang pemah mereka dengar. Bila di rumah anggota keluarga sering menyaksikan iklan, maka lagg-lagu jingle iklan tertentu menjadi konsumsi anak usia ini. Jingle adalah musik instrumentalia ataupun vokal yang dibuat khusus untuk iklan produk tertentu. Biasanya lagu tersebut pendek, dinamis, dan sangat atraktif sehingga menarik perhatian para calon konsumennya. Anak menirukan syair lagu sebelum mereka menirukan irama atau pitch-nya. (Menurut penelitian, 16% anak menirukan irama dan pitch dan termasuk mulai usia antara dua tahun dan tiga tahun, anak mengimitasi syairnya. Sekitar 50% anak usia tiga tahun dapat menirukan syair, irama, dan pitch seluruh bagian sebuah lagu dengan sedikit kesalahan yang dilakukannya).

11. Sebagian besar anak usia tiga tahun dan lima tahun akan membuat gerakan-gerakan spontan dan variasi-variasinya dalam merespons musik. Mulai usia enam tahun, sebagian besar anak tidak lagi merespons musik dengan gerakan-gerakan yang diulang-ulang' Ada hubungan antara gerakan dan musik melalui gerakan yang dipelajari seperti gerakan para penyanyi, dan penari yang pernah mereka lihat.

12. Anak usia empat dan enam tahun yang dapat mensinkronkan gerakan ciptaan mereka dengan irama musik meningkat dua kali lipat pada periode ini, Kemajuan yang dicapai anak pada periode ini adalah anak dapat mengkoordinasikan gerakan dengan irama dan dalam durasi yang cukup lama.

13. Ketika sebuah lagu diperdengarkan atau dimainkan pada instrumen musik (tanpa syair), hanya 40 dari anak usia empat tahun yang dapat mengenali lagu tersebut, sedangkan aktivitas yang sama dapat dilakukan oleh anak usia lima tahun sebanyak 75%.


LANGKAH-LANGKAH UMUM MEMBUAT LAGU

Pembuatan lagu pada dasarnya ditentukan oleh musikalitas seseorang. Namun prosesnya dapat dirakukan dengan rebih teratur jika pembuat lagu memiliki kemampuan dasar-dasar pemahaman unsur-unsur musik. Pemahaman akan unsur-unsur musik tidak dapat dikatakan sebagai suatu kemampuan teoritik, sebab pemahaman akan unsur-unsur musik hanya dapat dicapai dengan pendekatan praktek. Yang pertama menjadi dasar adalah tujuan atau maksud dari musik yang ingin dibuat.

l. Pemahaman Isi/Tujuan pembuatan Lagu
Memahami isi lagu yang akan dibuat akan memberikan banyak pengaruh terhadap lagu yang akan dibuat. yang paring jeras tentu akan tampak pada syair lagu yang dibuat. Pemahaman terhadap isi lagu juga akan menentukan rangkaian nada-nada yang disusun menjadi melodi sehingga watak melodi tersebut dapat mencerminkan makna lagu.

2. Penguasaan dan Penentuan Nada-dasar pada Tangganada
Nada dasar adalah nada yang menjadi pusat pergerakan atau arah penyelesaian rangkaian nada-nada dalam suatu tangganada. Dalam urutannya, nada dasar ditempatkan pada posisi pertama dan menjadi nama untuk tangganada tersebut, misalnya pada tangganada c mayor nada dasarnya adalah c.

3. Menentukan Struktur Lagu
Sebuah lagu mempunyai bagian-bagian tertentu yang tersusun dalam struktur tertentu. Strukrur Iagu adalah susunan unsur kalimat musik yang rnembentuk suatu lagu.

4. Menentukan Jangkauan Nada
Sebuah lagu mempunyai nada terendah dan tertinggi yang ada dalam rangkaian melodinya. Jarak antara nada terendah hingga nada tertinggi tersebut dinamakan jangkauan nada. Setiap lagu mempunyai jangkauan nada yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut biasanya ditentukan oleh tingkat usia sasaran yang dituju oleh isi lagu tersebut, misalnya lagu untuk kalangan anak usia dini, anak usia sekolah dasar, anak remaja, dan orang dewasa. Oleh karena itu, dalanr membuat lagu, faktor jangkauan nada harus menjadi salah satu dasar. Dalam kaitan dengan pembuatan lagu untuk anak usia dini, pembuat lagu harus tahu kemampuan jangkauan nada anak usia tersebut.

5. Menentukan Puncak Lagu
Sebuah lagu adalah ungkapan perasaan. Melalui lagu, pembuat lagu ingin mencurahkan perasaannya melalui rangkaian nada-nada. Keadaan perasaan tersebut diekspresikan dengan terarur melalui perubahan tinggi rendah nada yang bersifat dinamis. Dari dinamika rangkaian nada tersebut terdapat bagian rangkaian nada yang merupakan bagian ekspresi paling menonjol. Bagian ekspresi lagu tersebut dinamakan puncak lagu

6. Menuliskan dalam Notasi Musik
Notasi merupakan sarana untuk menuliskan gagasan dalam bentuk simbol-simbol yang dapat digunakan untuk mengomunikasikan gagasan tersebut dari seseorang kepada orang lain. Di samping itu, notasi juga merupakan sarana pendokumentasian karya dalam bentuk tulisan. Dalam membuat lagu, akan lebih baik jika pembuat lagu mempunyai kemampuan
menuliskan gagasan musiknya dalam bentuk notasi.

Penyajian musik

Musik dapat disajikan baik secara vokal maupun instrumental. Bila vokal yg menjadi alatnya adalah mulut. Bila secara instrumental alatnya adalah instrumen atau alat musik.

Paduan suara atau koor
 (dari bahasa Belanda: Koor) adalah menyanyi yang dibawakan oleh beberapa penyanyi, yang dipimpin oleh seorang dirigen.



Produksi Suara Manusia
Suara yang dihasilkan pada saat kita bicara (speaking voice): keras, kasar, tidak beresonansi, berat, menghabiskan banyak nafas.
Suara pada saat kita menyanyi (singing voice): halus, bersih, ringan, beresonansi, seluruh nafas yang keluar menjadi suara.

Nada terbagi menjadi 4 sifat:
1.PITCH, yaitu ketepatan jangkauan nada
2.DURASI, yaitu lamanya sebuah nada harus dibunyikan
3.INTENSITAS NADA, yaitu keras, lembutnya nada yang harus dibunyikan
4.TIMBRE, yaitu warna suara yang berbeda tiap-tiap orang

Macam-macam tanda tempo:
1. Largo          : sangat lambat
2. Grave         : sangat lambat, khidmat
3. Adagio       : lambat (sedikit lebih cepat dari grave)
4. Andante    : agak lambat (sedikit lebih cepat dari adagio)
5. Moderato   : sedang (sedikit lebih cepat dari andante)
6. Allegreto    : cepat sedang
7. Allegro       : cepat
8. Presto        : sangat cepat
10.Prestissimo: secepat mungkin

Teknik vokal

adalah cara memproduksi suara yang baik dan benar, sehingga suara yang keluar terdengar jelas, indah, merdu dan nyaring

Unsur-unsur Teknik Vokal :

1.SIKAP BADAN, adalah posisi ketika sedang menyanyi. Kondisi badan harus rileks, agar pernafasasan tidak terganggu.

2.PERNAFASAN, adalah usaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian disimpan dan dikeluarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan keperluan.

3.ARTIKULASI, adalah cara pengucapan kata demi kata yang baik dan jelas.

4. PHRASERING, adalah aturan pemenggalan kalimat yang baik dan benar sehingga mudah dimengerti.

5. RESONANSI, adalah usaha untuk memperindah suara dengan mengfungsikan rongga-rongga udara yang turut bervibrasi/ bergetar disekitar mulut dan tenggorokan.

6. INTONASI, adalah tinggi rendahnya suatu nada yang harus dijangkau dengan tepat.

7. VIBRATE, adalah usaha untuk memperindah sebuah lagu dengan cara memberi gelombang/ suara yang bergetar teratur.

8. IMPROVISASI, adalah usaha memperindah lagu dengan mengubah/ menambah sebagian melodi lagu, tanpa mengubah melodi pokoknya.

9. INTEPRETASI & EKSPRESI, adalah memahami dan menjiwai lagu.

Latihan pemanasan suara:
Bunyikan secara haming nada-nada dibawah ini. Haming adalah membunyikan mmm dengan posisi mulut rapat, gigi atas dan bawah tidak mengatup/renggang seperti orang mau menguap.
1 . . .   I   2 . . .  I   3 . . .  I   2 . . .  I  1 . . .  I
Mm         mm        mm       mm       mm
1  .   2  .  I   3   .  2 . I  1  .  2  .  I  3  .   2  . I  1 . . . 0 I
Mm  mm  mm  mm  mm  mm  mm  mm  mm
1   2  3  4  5   I   4  3  2  1  I  2  3  4  5  I   4  3  2  1 I . .
M m m m m     m m m m    m m m m    m m m m

Merawat Pita Suara :

1.Jangan memaksakan diri menyanyikan nada-nada tinggi yang belum dikuasai. Pita suara biasa aus.

2.Jangan minum es sebelum dan sesudah latihan atau hari yang sangat panas.

3.Jangan memaksakan diri menyanyi jika sedang sakit.

4.Hindari makanan berminyak, pedas, 3 jam sebelum bernyanyi.

5.Biasakan minum air putih ketika bangun  tidur, senam pagi sambil menghirup udara bersih sebanyak-banyaknya.

6.Jangan bernyanyi dalam keadaan perut kosong atau terlalu kenyang. Ini mempengaruhi rongga perut, diafragma, dan kualitas pernafasan.

Jenis alat musik berdasarkan cara memainkannya:

1.Alat gesek, yaitu alat musik yang dimainkan dengan cara menggesek dawainya. Contoh: biola,cello,kontra bass

2.Alat tiup, dimainkan dengan cara ditiup. Contoh: trompet, trombon, flute, klarinet, recorder, seruling.

3.Alat petik, dimainkan dengan cara dipetik dawainya. Contoh: gitar, mandolin, harpa.

4.Alat pukul, dimainkan dengan cara memukulnya. Contoh: simbal, dram

5.Alat keyboard, yaitu alat musik yg memakai bilah-bilah nada. Contoh: organ,piano,pianika




Tidak ada komentar:

Posting Komentar